Beranda
Identitas
Pemilu
Politik
Politik Identitas dan Pengaruhnya pada Pemilu

Politik identitas, sebuah fenomena yang tidak terlepas dari proses pemilu di Indonesia. Bicara soal politik, sudah pasti bicara soal kepentingan. Kepentingan apa? Nah, disinilah peran dari identitas.

Identitas sendiri bisa berupa banyak hal, seperti ras, agama, suku, gender, dan sebagainya. Di tengah keragaman Indonesia, identitas ini menjadi katalis yang kuat dalam menentukan sikap politik seseorang.

"Hey, dia dari suku saya. Pasti dia ngerti kebutuhan kita," begitu kira-kira logika yang berlaku.

Politik identitas seringkali digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi pemilih. Bagaimana tidak? Politik identitas ini seperti magnet yang menarik suara dari para pemilih yang memiliki identitas serupa. Semisal ada calon yang berasal dari suku atau agama tertentu, maka tidak heran jika ia mendapat dukungan yang kuat dari kelompok yang sama.

Contohnya, misalkan ada calon presiden yang berasal dari suku Jawa. Otomatis, dia akan mendapatkan dukungan yang signifikan dari pemilih yang berasal dari suku yang sama. Begitu pula sebaliknya. Tapi ingat ya, ini hanya contoh. Kita tahu, politik itu dinamis dan tidak semudah itu.

Jangan lupa, ada juga yang namanya efek backlash. Artinya, penggunaan politik identitas bisa saja mendatangkan efek balik yang negatif. Misalnya saja, kalau calon yang berlatar belakang suku Jawa itu dituduh sebagai pribadi yang "Jawa-centric". Ini bisa memicu perpecahan dan konflik antarsuku atau antaragama.

Tentu, ada pro dan kontra dalam penggunaan politik identitas ini. Di satu sisi, politik identitas bisa menciptakan solidaritas dan persatuan dalam suatu kelompok. Di sisi lain, politik identitas juga berpotensi memicu diskriminasi dan konflik.

Jadi, gimana nih solusinya? Bagaimana cara memastikan politik identitas tidak merusak tatanan demokrasi kita?

Nah, inilah peran penting pendidikan politik bagi masyarakat. Pendidikan politik yang baik harus mampu menciptakan pemilih yang cerdas, yang mampu menimbang secara objektif tanpa terjebak dalam politik identitas.

Oke, cukup dulu ya untuk kali ini. Semoga tulisan sederhana ini bisa membantu kalian lebih memahami soal politik identitas dan pemilu. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!

Tidak ada komentar